Pilih Login
Login Dashboard Data Umat

Hidup Sebagai Sakramen: Wajah Kristus dalam Pelayanan Umat

Diperbarui: 19 October 2025

Oleh: Admin

Dilihat: 34 kali

Hidup Sebagai Sakramen: Wajah Kristus dalam Pelayanan Umat

Merayakan, Membina, dan Merasul sebagai Tanda Kehadiran Allah di Tengah Dunia
Paroki Santa Maria Blitar – Minggu, 5 Oktober 2025

“Gereja bukan hanya bangunan, tetapi tanda kasih Allah yang hidup dan bekerja di tengah dunia.”

Setelah dua pertemuan sebelumnya meneguhkan makna Gereja sebagai Rumah tempat kita diterima dan Sasana tempat kita ditempa, kini para calon pengurus DPP, BGKP, Ketua Lingkungan, dan Ketua Stasi Paroki Santa Maria Blitar melangkah ke tahap ketiga: Gereja sebagai Sakramen.
Tema ini mengajak seluruh peserta untuk menyadari bahwa Gereja dipanggil bukan hanya berdiri di tengah umat, tetapi juga menjadi tanda kasih dan kehadiran Allah bagi dunia.

Dalam suasana doa dan refleksi yang khidmat, Romo Stanislaus Beda Eylenor, CM membuka pertemuan dengan ajakan mendalam:
“Setiap tindakan kasih, pelayanan, dan doa yang kita lakukan—itulah wajah Kristus yang hadir melalui Gereja.”
Melalui materi “Gereja sebagai Sakramen”, peserta diajak menyelami kembali bahwa sakramen bukan sekadar ritus, melainkan perjumpaan nyata dengan Allah yang terjadi melalui tindakan Gereja: dalam Ekaristi, dalam pelayanan sosial, dalam pendampingan umat, bahkan dalam senyum dan kepedulian antar sesama. Dengan demikian, setiap pengurus dipanggil untuk menjadi sakramen hidup—tanda kasih Allah yang nyata di tempatnya masing-masing.

Sesi diskusi kelompok menjadi ruang subur bagi peserta untuk menggali makna konkret panggilan ini. Beberapa kelompok menegaskan pentingnya agar setiap kegiatan paroki tidak berhenti pada rutinitas, melainkan menjadi sarana pembinaan iman dan pewartaan kasih. Ada pula yang menyoroti perlunya kreativitas pastoral, agar kegiatan Gereja benar-benar menjawab kebutuhan umat, khususnya anak muda dan keluarga.
Beberapa gagasan menarik yang muncul antara lain:
- Membangun kegiatan pastoral yang menggerakkan hati umat, bukan sekadar memenuhi jadwal.
- Menciptakan ruang perjumpaan dan dialog antarumat lintas lingkungan.
- Menghidupkan kembali semangat pelayanan di setiap bidang melalui kolaborasi dan kaderisasi.

Melalui refleksi ini, para peserta menyadari bahwa menjadi Gereja Sakramental berarti menjadi wajah Kristus yang hadir, membina, dan mengutus—di rumah, di lingkungan, di tempat kerja, dan di masyarakat. Suasana Aula Paroki terasa hidup dan bersukacita. Setiap kelompok membagikan hasil diskusinya dengan semangat dan kehangatan. Nilai-nilai sinodal — berjalan bersama, mendengarkan satu sama lain, dan mengambil keputusan bersama — benar-benar terasa.
Dari pertemuan ini lahir tekad baru: agar setiap bidang, seksi, dan lingkungan mampu menghidupi imannya secara konkret dalam tindakan kasih yang menyelamatkan.

Romo Beda menutup sesi dengan refleksi yang menggugah:
“Sakramen bukan hanya sesuatu yang kita terima, tetapi sesuatu yang kita hidupi.
Melalui tangan, hati, dan pelayanan kita, dunia dapat melihat kasih Kristus yang hidup.”

Pertemuan ke-3 ini menjadi langkah penting dalam perjalanan pembinaan calon pengurus Paroki Santa Maria Blitar.
Dari Rumah yang menerima, Sasana yang membentuk, kini kita melangkah sebagai Sakramen yang menghidupi dan mengutus.
Gereja Paroki Santa Maria Blitar dipanggil untuk terus merayakan imannya dengan sukacita, membina umat dengan kasih, dan merasul dengan semangat pelayanan, agar wajah Kristus sungguh nyata di tengah dunia.

“Kita dipanggil bukan hanya menjadi umat yang datang ke Gereja,
tetapi menjadi Gereja yang datang ke dunia.” ????