Pilih Login
Login Dashboard Data Umat

Dari Refleksi ke Aksi: Menjadi Gereja yang Berkarya Nyata

Diperbarui: 19 October 2025

Oleh: Admin

Dilihat: 55 kali

Dari Refleksi ke Aksi: Menjadi Gereja yang Berkarya Nyata

Pertemuan keempat pembinaan calon Dewan Pastoral Paroki (DPP), Badan Gereja Katolik Paroki (BGKP), Ketua Lingkungan, dan Ketua Stasi Paroki Santa Maria Blitar dilaksanakan pada Minggu, 12 Oktober 2025 di Aula Paroki Santa Maria Blitar.Kegiatan ini merupakan penutup dari rangkaian empat tahap pembinaan pengurus baru masa bakti 2026–2028. Setelah sebelumnya membahas tema Gereja sebagai Rumah, Sasana, dan Sakramen, pada pertemuan terakhir ini para peserta diajak melangkah lebih jauh
“Dari Refleksi ke Aksi: Menjadi Gereja yang Berkarya Nyata.”

Tujuan utama kegiatan ini adalah meneguhkan semangat pelayanan, memperkuat kebersamaan, serta menyusun program kerja pastoral konkret yang akan menjadi arah gerak Paroki Santa Maria Blitar dua tahun ke depan.

Bagian utama kegiatan diisi dengan diskusi kelompok. Setiap bidang — Sumber, Formatio, Kerasulan Umum, Kerasulan Khusus, serta Lingkungan dan Stasi — menyusun rencana program kerja pastoral 2026–2028 yang menanggapi kebutuhan nyata umat. Hasil diskusi menunjukkan semangat dan kreativitas tinggi dari para peserta.
Setelah seluruh proses penyusunan program kerja selesai, acara dilanjutkan dengan tindakan simbolis yang menjadi puncak dari seluruh rangkaian pembinaan. Setiap peserta membawa sebotol air yang telah disiapkan sebelumnya. Di tengah ruangan, dibentuk lingkaran besar, dan di pusat lingkaran itu diletakkan sebuah salib dan satu tanaman hidup. Tanaman tersebut melambangkan Gereja yang hidup — yang tumbuh, berkembang, dan berbuah karena kasih umatnya. Sementara air yang dibawa peserta menjadi lambang iman, kasih, dan komitmen pelayanan yang akan menghidupi Gereja.

Peserta yang membawa air berdiri mengelilingi salib dan tanaman, sementara peserta lain yang tidak membawa air berdiri di luar lingkaran, bergandengan tangan dan bersama-sama menyanyikan lagu “Diamlah.”.

Selanjutnya, peserta maju satu per satu dengan berbaris, menyiram tanaman di tengah lingkaran menggunakan air yang mereka bawa. Air-air itu menyatu di tanah, memberi kehidupan bagi tanaman — seperti halnya pelayanan setiap pribadi yang bila dijalankan bersama akan menumbuhkan Gereja. Kegiatan sederhana ini menyimpan makna rohani yang sangat mendalam. Tanaman yang disiram air melambangkan Gereja yang terus hidup dari kasih, doa, dan pelayanan umatnya. Air yang dibawa setiap peserta adalah simbol diri dan pengorbanan pribadi, yang bila disatukan akan menjadi sumber kehidupan baru bagi Gereja.

Melalui simbol ini, para peserta diajak menyadari bahwa Gereja tidak akan tumbuh hanya dari rencana dan program, tetapi dari hati yang mau memberi, menyirami, dan menghidupi iman bersama. Seperti tanaman yang memerlukan air setiap hari, Gereja juga harus terus dipelihara oleh kasih dan doa umatnya.

Romo Stanislaus Beda memberikan peneguhan akhir dengan pesan yang meneguhkan:
“Kegiatan pastoral bukan sekadar agenda, melainkan wujud nyata kasih Tuhan yang mengalir melalui kita.

Empat pertemuan ini menjadi perjalanan iman yang utuh:
- Gereja sebagai Rumah, tempat kita diterima.
- Gereja sebagai Sasana, tempat kita ditempa.
- Gereja sebagai Sakramen, tanda kasih Allah yang hidup.
- Dan kini, Gereja yang Berkarya Nyata, yang diutus untuk melayani dunia.

Melalui proses ini, para calon pengurus Paroki Santa Maria Blitar semakin siap untuk melayani dengan hati yang tulus, bekerja dalam semangat sinodalitas, dan menghadirkan wajah Gereja yang merayakan, membina, serta merasul di tengah kehidupan umat.

“Gereja yang hidup adalah Gereja yang disirami oleh kasih, doa, dan pelayanan umatnya.”