Pilih Login
Login Dashboard Data Umat

Zodiak, Shio, dan Weton: Sikap Tegas Umat Katolik

Diperbarui: 04 December 2025

Oleh: Admin

Dilihat: 69 kali

Zodiak, Shio, dan Weton: Sikap Tegas Umat Katolik

Kita semua pasti pernah mendengar tentang zodiak, shio, atau weton. Ada yang membacanya untuk hiburan, ada pula yang sungguh percaya bahwa semua itu bisa menentukan nasib, jodoh, atau keberuntungan. Namun, sebagai umat Katolik, kita perlu bertanya: bagaimana Gereja memandang hal-hal seperti ini?

Jawaban Gereja jelas dan tegas: umat Katolik tidak boleh mempercayai ramalan dalam bentuk apa pun.

Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) Art. 2116 tertulis, “Semua bentuk ramalan harus ditolak: mencari tahu masa depan dari horoskop, astrologi, membaca tangan, menafsirkan pertanda dan nasib… Semua ini bertentangan dengan hormat dan kasih yang hanya menjadi milik Allah.”

Artinya, saat kita mempercayai zodiak, shio, atau weton sebagai penentu nasib, kita secara tidak sadar menaruh kepercayaan pada sesuatu selain Tuhan. Kita seolah meragukan rencana dan penyelenggaraan-Nya. Padahal, hanya Tuhan yang benar-benar tahu masa depan kita. Kepercayaan kepada ramalan berarti menggeser posisi Allah dari pusat hidup kita. Ini bertentangan dengan iman Katolik.

Meski begitu, Gereja tidak menolak budaya. Banyak umat Katolik yang memiliki tradisi turun-temurun seperti Imlek dengan perhitungan shio, atau adat Jawa dengan weton. Hal seperti ini tidak dilarang selama tidak dikaitkan dengan nasib atau kekuatan gaib. Kalau dilakukan semata-mata sebagai bentuk penghargaan terhadap budaya—misalnya untuk menjaga tradisi keluarga atau memilih hari baik menurut adat tanpa mempercayainya sebagai penentu hidup—maka hal itu boleh dilakukan.

Namun, bila budaya tersebut berubah menjadi keyakinan magis yang menimbulkan rasa takut dan ketergantungan, kita harus berhati-hati. Misalnya, merasa sial karena zodiak tertentu, yakin bahwa jodoh tidak cocok karena shio, atau menunda keputusan karena hitungan weton. Saat hal-hal itu mulai menentukan cara kita berpikir dan bertindak, berarti iman kita sedang bergeser.

Sebagai orang Katolik, kita diajak untuk menaruh harapan hanya kepada Tuhan. Ketika masa depan terasa tidak pasti, kita tidak mencari jawaban di ramalan, melainkan datang kepada Tuhan dalam doa dan kepercayaan penuh. Seperti yang tertulis dalam Yeremia 29:11: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu… rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

Budaya boleh menjadi bagian indah dari kehidupan, tetapi iman harus tetap menjadi pusatnya. Zodiak, shio, atau weton hanyalah bagian dari tradisi manusia, sedangkan Tuhan adalah sumber hidup dan penentu sejati masa depan kita. Karena itu, marilah kita belajar untuk percaya penuh pada-Nya, dan tidak membiarkan hal lain mengambil tempat-Nya di hati kita.